Seperti yang kita ketahui bersama, perpajakan merupakan sumber penerimaan negara yang utama dan terbesar. Salah satunya adalah pajak perusahaan. Namun, tidak semua perusahaan dikenakan pajak dengan tarif yang sama. Pajak perusahaan harus dihitung sebelum membayar pajak.

Perhitungan pajak badan ini akan dikenakan untuk setiap jenis perusahaan yang melakukan kegiatan usaha di Indonesia. Perusahaan asing dan perusahaan lokal.

Jika Anda berada di dunia bisnis, atau bahkan memiliki perusahaan sendiri, Anda harus tahu cara menghitung pajak perusahaan Anda. Lihat di bawah untuk petunjuk lengkap tentang cara menghitung pajak perusahaan.

Sekilas tentang pajak perusahaan dan jenisnya

Setiap Nomor Badan Usaha (NPWP) yang ada dalam bentuk Perseroan Terbatas (PT), Perseroan Firma (Fa), Perseroan Terbatas (CV), Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan telah memiliki surat keterangan status wajib pajak badan, adalah wajib pajak badan usaha (WP).

Tidak hanya itu, pajak badan juga dapat dipungut atas persekutuan, koperasi, dana pensiun, persekutuan, persekutuan, yayasan, ormas, organisasi sosial politik, lembaga, bentuk usaha tetap, dan badan lainnya.

Pajak Penghasilan atau yang disebut PPh adalah pajak negara yang dipungut atas setiap tambahan kemampuan keuangan yang diperoleh wajib pajak. Perhitungan pajak perusahaan juga bervariasi dari orang ke orang.

Pajak penghasilan dikenakan atas penghasilan tahunan wajib pajak orang pribadi dan wajib pajak badan. Pajak penghasilan berlaku tidak hanya untuk individu tetapi juga untuk perusahaan yang mengelola produk.

Dengan kata lain, penghitungan pajak badan didasarkan atas pajak yang dikenakan atau ditarik atas barang atau jasa yang dikelolanya. Pajak penghasilan badan yang dipungut akan dikelola oleh negara dan dikembalikan kepada rakyat.

Dalam Undang-undang Perpajakan, terdapat 8 (delapan) jenis pajak badan yang dikenakan kepada perusahaan, yaitu:

Pajak PPh 15 Korporasi
Pajak PPh 21 Korporasi
Pajak PPh 22 Korporasi
Pajak PPh 23 Korporasi
pajak badan PPh 25
Pajak PPh 26 Korporasi
Pajak PPh 29 Korporasi
Pajak PPh Badan Pasal 4(2)

Cara menghitung pajak perusahaan menurut undang-undang


Seperti disebutkan di atas, ada 8 (delapan) jenis pajak badan yang harus dibayar sejak perusahaan didirikan atau mulai menjalankan usaha di Indonesia.

Jika Anda memutuskan untuk menutup bisnis Anda atau berhenti beroperasi, kewajiban membayar pajak perusahaan secara otomatis akan berhenti. Namun, selama bisnis perusahaan Anda masih berjalan, penting untuk memahami bagaimana pajak perusahaan dihitung sejak awal.

Berikut cara menghitung pajak perusahaan yang dibebankan ke setiap perusahaan penghasil pendapatan:

1. Penghitungan pajak penghasilan dan penghasilan kena pajak
Sebelum menghitung pajak penghasilan badan usaha, hal pertama yang harus diperhatikan adalah menghitung besaran atau besarnya penghasilan kena pajak dari perusahaan atau badan tersebut.

Anda dapat menghitungnya dengan Formula Fiskal Bersih – Kompensasi Kerugian Fiskal.

Fiskal dan perpajakan neto adalah penghasilan bersih setelah disesuaikan pajak yang diperoleh wajib pajak dalam negeri yang melakukan kegiatan usaha atau tidak melakukan kegiatan usaha.

Sedangkan kompensasi finansial bersih merupakan kerugian yang diderita oleh perusahaan.

Kemudian, jika setelah dikurangi semua biaya tersebut ternyata penghasilan bruto perusahaan Anda tidak termasuk penghasilan kena pajak, bentuk kerugian ini akan dikompensasi dalam waktu 5 (lima) tahun berturut-turut dengan penerimaan pajak tahun berikutnya.

2. Perhitungan pajak penghasilan atau pajak terutang
Dalam penghitungan pajak badan selanjutnya, jumlah kena pajak atau pajak penghasilan yang terutang dapat dihitung dengan menggunakan penghasilan kena pajak x tarif pajak yang berlaku.

Menurut Pasal 17(1) UU No. 36 Tahun 2008 tentang PPh:

“Tarif pajak penghasilan badan secara umum adalah 25% dari penghasilan kena pajak”

Perlu Anda ketahui bahwa tarif pajak 25% sudah berlaku sejak tahun 2010. Namun, beberapa perusahaan atau badan usaha mungkin menerima tarif pajak yang lebih rendah berdasarkan perhitungan pajak perusahaan yang berlaku.

Misalnya, sebuah perusahaan publik mendepositkan 40% sahamnya di bursa efek dan karena itu mengenakan tingkat bunga 5% lebih rendah dari tingkat normal. Berikut ini adalah contoh perhitungan pajak perusahaan:

‍PT. A hanya menyetorkan 15% sahamnya di BEI, dan penghasilan kena pajak sebesar Rp3.000.000.000,00. Maka tarif pajak penghasilan badan yang harus dibayar adalah:

25% x 3.000.000.000,00 Rp = 750.000.000,00 Rp

Sementara itu, PT. B memperdagangkan 55% sahamnya melalui BEI, penghasilan kena pajaknya tahun ini adalah Rp3.500.000.000,00, maka berlaku aturan tarif pajak 20% yang dihitung sebagai berikut:

20% x Rp3.500.000.000.000,00 = Rp700.000.000,00

3. Ketentuan bahwa pajak penghasilan badan dihitung dan dipungut menurut jumlah peredaran
Gross float berperan penting dalam menghitung pajak penghasilan badan atau badan. Peredaran bruto adalah semua penghasilan yang diterima oleh wajib pajak orang pribadi atau badan.

Jika pembukuan perusahaan Anda akurat dan akurat, maka penghitungan penghasilan kena pajak akan didasarkan pada entri dalam pembukuan.

Rumus perhitungan pajak penghasilan perusahaan menghitung jumlah pajak penghasilan perusahaan sebagai 25% × penghasilan kena pajak
Kemudian, jika perusahaan Anda tidak memiliki pembukuan, maka penghasilan kena pajak akan dihitung berdasarkan Standar Penghitungan Laba Bersih (NPPN) yang diatur dalam Pasal 14 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Penghitungan Standar Pajak Penghasilan Laba bersih.

Perlu Anda ketahui bahwa standar perhitungan penghasilan bersih terbagi menjadi dua jenis sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku, yaitu:

A. Total sirkulasi di bawah Rp 50 miliar
Menurut Pasal 17 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008, apabila jumlah peredaran yang dimiliki Wajib Pajak badan dalam negeri kurang dari 50 miliar rupiah, maka tarif akan diturunkan sebesar 50% berdasarkan tarif pajak yang berlaku.

Perusahaan dengan total omzet penghasilan kena pajak sebesar Rp4,8 miliar akan dikenakan bea masuk berdasarkan ketentuan ini. Berikut perhitungan pajak penghasilan badan terutang untuk perusahaan dengan total omzet kurang dari Rp 50 miliar. Ini termasuk:

Untuk perusahaan dengan total omzet kurang dari atau sama dengan Rp4,8 miliar, perhitungannya adalah 50% x 25% x penghasilan kena pajak

Sedangkan untuk perusahaan dengan total peredaran lebih dari Rp 4,8 miliar hingga Rp 50 miliar perhitungannya adalah:

[(50% x 25%) x penghasilan kena pajak dengan fasilitas] + [25% x penghasilan kena pajak tanpa fasilitas]

b. Jumlah peredarannya melebihi 50 milyar rupiah
Sedangkan untuk perusahaan dengan total omzet lebih dari Rp50 miliar, perhitungan pajak akan dilakukan sesuai dengan peraturan umum dan/atau tanpa dipotong tarif pajak yang berlaku.

4. Mengurangi tarif pajak penghasilan badan terbaru
Melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 30 Tahun 2020, pemerintah telah menurunkan tarif pajak penghasilan badan terbaru khusus untuk perusahaan tercatat (Tbk), yang berbunyi:

“Penurunan Tarif Pajak Penghasilan Bagi Wajib Pajak Dalam Negeri Berbentuk Perseroan Terbatas dan Pengurangan Tarif Pajak PPh Bagi Wajib Pajak Badan Usaha Publik”

Penurunan tarif pajak PPh ini didasarkan pada kebijakan keuangan nasional dalam menghadapi pandemi COVID-19 dan stabilitas sistem keuangan. Jadi menurut Pasal 2 PP No. 30 Tahun 2020, tarif PPh Badan untuk Wajib Pajak Badan Dalam Negeri dan Badan Usaha Tetap (BUT) adalah:

Tarif 22% diterapkan pada tahun 2020 dan 2021
Tarif 20% mulai berlaku 2022

Contoh perhitungan pajak perusahaan dan studi kasus
Untuk menentukan tarif pajak penghasilan badan bagi wajib pajak badan, ada beberapa hal yang harus Anda ketahui, seperti:

Formulir badan: Apakah wajib pajak badan memenuhi persyaratan perusahaan terbuka?
Total omzet: Apabila jumlah total wajib pajak badan tidak melebihi Rp50 miliar, maka akan dikenakan bagian dari penghasilan kena pajak yang telah difasilitasi dan bagian yang belum mendapat pengurangan tarif pajak penghasilan badan.
Berikut adalah tata cara penghitungan pajak badan atau pajak penghasilan badan bagi wajib pajak perusahaan terbuka:

Contoh kasus 1
PT KitaLulus adalah perusahaan Tbk dengan penghasilan bruto sampai dengan Rp 80.000.000,00 dan penghasilan kena pajak Rp 5.000.000.000,00 yang tercatat dalam pembukuan.

Karena total penerbitan PT KitaLulus melebihi Rp 50 miliar, tarif pajak berdasarkan Pasal 17(2a) adalah 25%. Maka perhitungan pajak penghasilan badan yang terutang oleh PT KitaLulus adalah:

Utang pajak penghasilan badan = 25% x penghasilan kena pajak

25% x Rp5.000.000.000,00 = Rp1.250.000.000,00

Contoh kasus 2
Penghasilan bruto PT ABC sebesar Rp4.500.000.000,00 dan penghasilan kena pajak sebesar Rp800.000.000,00. PT ABC dikecualikan dari wajib pajak yang dikenakan PPh final atas peredaran bruto tertentu.

Karena total omzet PT ABC kurang dari Rp 50 miliar, PT ABC telah diberikan tunjangan keringanan bea sebesar 50% berdasarkan Pasal 31E. Maka perhitungan pajak penghasilan badan yang terutang oleh PT ABC adalah:

Utang pajak penghasilan perusahaan = pengurangan tarif dan jumlah pembebasan × tarif pajak penghasilan × penghasilan kena pajak

50% x 25% x Rp800.000.000,00 = Rp100.000.000,00

Inilah yang perlu Anda ketahui tentang perhitungan pajak perusahaan. Ingat bahwa setiap wajib pajak wajib membayar pajak pada bagiannya masing-masing. Jadi jangan lupa bayar pajak perusahaan ya!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *