Uang untuk memulai bisnis atau bisnis tidak harus berasal dari kantong Anda sendiri. Anda bisa memulai bisnis dengan meminjam uang dari bank, bekerja sama dengan teman atau kerabat, dan lainnya.

Namun tentunya jika menggunakan metode pembiayaan yang kedua ini, Anda harus mengetahui bagaimana membagi keuntungan bisnis Anda. Tujuannya adalah agar Anda dan mitra bisnis Anda mendapatkan bagian keuntungan yang adil dan terlibat dalam bisnis yang saling menguntungkan.

Berikut adalah beberapa cara Anda dapat melihat pembagian keuntungan.

1. Gaji dan dividen (pendapatan investasi)
Cara pertama untuk membagi hasil adalah dengan memberikan gaji bulanan sekaligus keuntungan investasi (dividen). Anda dan kolega Anda dapat memilih opsi ini jika Anda dan kolega Anda tidak hanya menyumbangkan uang tetapi juga terlibat aktif dalam mengelola bisnis.

Misalnya A dan B bekerja sama membuka bengkel sepeda motor. Saat bengkel didirikan, A berperan sebagai mekanik, dan B berperan sebagai customer service. Oleh karena itu, A dan B berhak atas gaji bulanan dan penghasilan investasi karena mereka juga karyawan.

Misalnya, jika total pendapatan Bengkel A adalah Rp 20 juta pada bulan pertama. Dari 20 juta itu, A dan B masing-masing berhak atas gaji Rp 1 juta.

Setelah dikurangi gaji dan biaya lainnya, laba bersih Perusahaan A adalah 1 juta. Karena A dan B sama-sama berkontribusi 50%:50%, A dan B berhak atas bagi hasil sebesar Rp 500.000.

Sebaliknya, jika bisnis Anda merugi atau tidak mencapai titik impas, Anda dan mitra bisnis harus berbagi kerugian.

2. Jika rekan kerja bertindak sebagai investor (penyedia modal)
Dalam banyak kasus, manajer bisnis tidak memiliki modal untuk menjalankan bisnis. Mereka hanya menyumbangkan tenaga untuk mengelola usaha dengan modal yang diberikan pihak lain.

Kasus seperti ini tidak hanya terjadi pada perusahaan atau investasi asing, tetapi juga pada usaha kecil. Bahkan sekarang, ada perusahaan pemberi pinjaman P2P yang didedikasikan untuk memberikan pinjaman modal kepada petani dan petani penggarap.

Misalnya, di desa-desa di seluruh Indonesia, masih banyak petani dan peternak yang menggarap lahan atau ternak orang lain, sementara yang lain hanyalah investor. Sebagian kecil dari petani dan peternak pembudidaya ini sekarang tergabung sebagai penerbit dari perusahaan pinjaman P2P pertanian yang sedang berkembang.

Jika sistem kerja Anda seperti ini, maka mitra Anda hanya mendapat dividen bulanan, tidak ada gaji, dan Anda mendapat gaji dan dividen. Itu karena dia tidak terlibat langsung dalam proses pembinaan bisnis.

Namun, jika bisnis merugi, biasanya pemilik modal yang menanggung kerugian. Karena tidak mendapatkan keuntungan usaha, maka modal usaha yang mereka berikan cenderung hilang.

Misalnya, di desa-desa di seluruh Indonesia, masih banyak petani dan peternak yang menggarap lahan atau ternak orang lain, sementara yang lain hanyalah investor. Sebagian kecil dari petani dan peternak pembudidaya ini sekarang tergabung sebagai penerbit dari perusahaan pinjaman P2P pertanian yang sedang berkembang.

Jika sistem kerja Anda seperti ini, maka mitra Anda hanya mendapat dividen bulanan, tidak ada gaji, dan Anda mendapat gaji dan dividen. Itu karena dia tidak terlibat langsung dalam proses pembinaan bisnis.

Namun, jika bisnis merugi, biasanya pemilik modal yang menanggung kerugian. Karena tidak mendapatkan keuntungan usaha, maka modal usaha yang mereka berikan cenderung hilang.

Adapun persentase bagi hasil tergantung kesepakatan antara investor dan pengelola. Jika Anda merasa berbagi persentase hasil bisnis bukan untuk Anda sebagai seorang praktisi, Anda tidak perlu takut untuk mengungkapkan pendapat Anda.

Tidak ada formula bagi hasil operasi yang berlaku dan sepenuhnya tergantung pada kesepakatan para pihak yang terlibat.

Contoh dari sistem bagi hasil ini adalah A adalah seorang petani yang memelihara kolam ikan. A tidak memiliki dana, tidak memiliki lahan untuk berbisnis, dan hanya bekerja sebagai operator tambak.

Asumsikan dalam 1 bulan, A berhasil memperoleh penghasilan bersih sebesar Rp 2 juta setelah dikurangi berbagai biaya termasuk gaji Anda. Oleh karena itu, A dan investor berhak mendapatkan keuntungan dari hasil bersih, besarnya pembagian tergantung kesepakatan antara A dan investor.

3. Jika Anda mendapatkan uang dari pinjaman
Ingin memulai bisnis tapi tidak punya dana? Anda bisa meminjam uang ke bank dengan bergabung di Kredit Usaha Rakyat (KUR) atau dengan meminjam uang ke kerabat. Terlepas dari sumber pinjaman dana, pinjaman harus dilunasi.

Jika Anda meminjam uang dari bank, biasanya Anda harus membayar pokok dan bunga pinjaman dalam jangka waktu tertentu. Pokok pinjaman dan bunga pinjaman yang harus Anda bayar tidak ada hubungannya dengan keuntungan yang diperoleh perusahaan Anda.

Artinya, meskipun perusahaan merugi, utang bank tetap harus dilunasi pada tanggal yang ditentukan. Namun, jika kerugian benar-benar tidak dapat dihindari, Anda dapat mengajukan permohonan keringanan pembayaran kredit ke bank Anda.

Situasi lainnya adalah Anda meminjam uang dari kerabat atau teman. Secara umum, sistem pinjaman jenis ini tidak seketat bank. Biasanya, Anda juga tidak perlu melakukan pembayaran bunga dan pokok pinjaman pada tanggal yang ditentukan.

Hanya saja, jika pinjaman ke kerabat tidak dilunasi tepat waktu, utang ini bisa menjadi kutukan bagi kehidupan sosial Anda dan saudara Anda. Tentu Anda tidak ingin persaudaraan Anda hancur karena hutang bukan?

Cara menghitung bagi hasil modal pinjaman sebenarnya cukup sederhana. Anda dapat mengurangi pendapatan bisnis Anda secara langsung melalui cicilan pinjaman dan bunga. Untuk membantu Anda menghitung kredit ini, Anda juga bisa menggunakan kalkulator kredit yang kini sudah banyak tersedia di internet.

Misalnya untuk membuka restoran, Anda harus meminjam 100 juta dari bank. Dana tersebut harus dilunasi dalam waktu 5 tahun (60 bulan) dan memiliki tingkat bunga tetap 10% per tahun. Oleh karena itu, A harus membayar cicilan kredit ditambah bunga sebesar Rp. 2.500.000 per bulan.

Bulan ini, Perusahaan A mendapat untung Rp 10 juta. A dapat mengurangi keuntungan tersebut secara langsung dengan cicilan bulanan dan bunga yang harus dibayar oleh A.

Ketiga transaksi di atas dikenal dalam ekonomi Islam sebagai akad Musyarakah, Mudharabah dan Qiradh. Oleh karena itu, Anda dapat mempelajari hukum bagi hasil menurut hukum syariah untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang hukum bagi hasil bisnis di atas.

Selain pembagian keuntungan, pelajari cara berbagi risiko bisnis dengan rekan kerja. Sebab, terkadang Anda berada dalam bisnis yang merugi. Memahami pembagian keuntungan versus pembagian risiko penting bagi Anda untuk membangun bisnis yang menguntungkan.

Hal lain yang harus dipelajari untuk mendukung pembagian keuntungan dan risiko adalah bagaimana mengelola keuangan usaha dan administrasi usaha agar setiap transaksi dalam usaha tercatat dengan baik.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *