Pandemi yang terjadi baru-baru ini berdampak besar bagi UMKM. Menurut data yang diperoleh dari kajian International Labour Organization (ILO) tahun 2020, setidaknya 39,24% UMKM memutuskan berhenti beroperasi. Tutupnya usaha itu sendiri dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Nah, artikel kali ini akan mencoba membahas faktor-faktor penyebab bisnis gagal atau setidaknya tidak berkembang.

1. Kurangnya motivasi untuk berkembang

Masalah pertama yang sering dihadapi UKM adalah kurangnya motivasi pengembangan. Dinamika perkembangan ini membuat perusahaan-perusahaan yang dimiliki stagnan sampai batas tertentu, bahkan tidak mampu bertahan lama. Keadaan ini dapat mengakibatkan terhentinya kegiatan usaha.

Beberapa pelaku UMKM mungkin dapat menjalankan usahanya meski tanpa memiliki visi berkembang. Sebagai contoh, Pak Andi adalah pemilik toko kelontong yang berlokasi di sebuah daerah. Pak Andi tidak mau dibuat pusing dengan usahanya. Baginya, selama dia mampu menjual dagangan dan mendapatkan pendapatan itu sudah cukup.

Pola pikir inilah yang kemudian membuat Pak Andi tidak berusaha terus memperbaiki pola bisnisnya. Hal ini dapat terlihat dari luas warungnya yang tidak pernah bertambah. Beliau juga cenderung tidak pernah mencoba mencari produk yang disukai konsumen. Akan tetapi, kondisi ini tidak berarti Pak Andi tidak berhasil menjalankan bisnis. Sebagai buktinya, beliau telah menjalankan bisnis tersebut selama 10 tahun.

Secara tidak langsung, apa yang dihadapi Pak Andi bisa jadi merupakan contoh bisnis yang bisa berjalan tanpa momentum pertumbuhan dan terus berjalan selama 10 tahun. Namun pada kenyataannya, ada juga tantangan yang mengintai. Baru-baru ini tetangga Pak Andi membuka toko sembako langka di radius sekitar 1 km.

Tetangga ini lebih sering melengkapi produknya dan juga memiliki jenis produk yang lebih beragam. Dapat dikatakan bahwa visi tetangga lebih besar dari Ba Andy. Hal ini juga yang menjadi alasan mengapa banyak masyarakat di lingkungan Bei’andi saat itu memilih berbelanja di toko baru dibandingkan dengan toko Bei’andi. Dalam setahun, Pak Andi tidak bisa lagi mempertahankan usahanya karena sepi pembeli.

Kasus Pak Andi di atas adalah contoh betapa pentingnya sahabat UKM memiliki dorongan untuk berkembang.

Selalu ada potensi munculnya kompetitor baru dan akan menghadirkan konsep yang bisa merebut hati konsumen. Dalam proses penanggapan dan persiapan, sahabat UKM harus selalu bisa mengajukan konsep dan ide baru, sehingga memiliki daya tarik di hadapan konsumen.

2. Produk tidak dapat dijual

Banyak UMKM yang memiliki motivasi tinggi untuk mengembangkan usahanya namun gagal karena ketidakmampuan mereka untuk menjual produknya. Sahabat UKM perlu memahami bahwa esensi utama dalam memulai usaha adalah menjual produk. Semua proses operasional yang dilakukan oleh suatu bisnis mampu menghasilkan keuntungan dari penjualan produknya.

Salah satu masalah utama yang sering dihadapi UKM adalah terlalu sibuk membuat produk. Mereka telah menciptakan produk dengan banyak keunggulan. Tetapi pada saat yang sama biaya produksi produk ini sangat tinggi. Akibatnya, harga jual produk tersebut menjadi mahal. Pada saat yang sama, konsumen tidak memiliki dana yang dialokasikan untuk harga tersebut, sehingga mereka lebih bersedia membeli produk lain. Ini mungkin menjawab pertanyaan banyak perusahaan kecil dan menengah, mengapa produk mereka sangat bagus, tetapi pembelinya tidak banyak.

Situasi ini tidak berarti bahwa kualitas produk tidak penting bagi konsumen. Perlu dipahami bahwa konsumen pasti akan membeli produk dengan kualitas terbaik untuk uang yang mereka miliki. Tantangan nyata bagi teman-teman UKM adalah menentukan kombinasi terbaik dari kualitas produk yang baik dan harga yang pas untuk konsumen.

Selain berfokus pada produk dan harga, ada beberapa faktor lain yang dapat mendorong penjualan produk. Faktor-faktor tersebut diringkas dengan nama bauran pemasaran atau marketing mix. Bauran pemasaran artinya ada 4 faktor utama yang mendorong penjualan yaitu produk, harga, tempat dan promosi.

Lokasi memainkan peran yang sangat penting karena membantu konsumen menemukan produk untuk dijual. Akhir-akhir ini banyak dibangun ruko di lokasi yang tidak strategis, seperti jalan kecil, pinggiran perumahan, dll. Ruko mungkin ditawarkan kepada teman-teman UKM dengan harga murah, yang terlihat menguntungkan.

Namun bila lokasinya tidak strategis, harga berapapun yang ditawarkan sebaiknya ditolak karena tidak akan meningkatkan penjualan sama sekali. Selain pemasaran, Anda juga bisa menggunakan promosi untuk meningkatkan penjualan. Salah satu permasalahan yang sering dilakukan oleh usaha kecil, menengah dan mikro adalah melakukan promosi secara sporadis tanpa tujuan yang jelas.

Dalam hal mendorong penjualan tersebut, teman-teman UKM sebenarnya bisa memanfaatkan digitalisasi yang sedang berkembang akhir-akhir ini. Digitalisasi dapat digunakan untuk menambah fitur produk, menjadikannya lebih baik dari pesaing. Digitalisasi juga dapat digunakan untuk menciptakan harga yang lebih kompetitif karena efisiensi proses saat ini menggunakan digitalisasi.

Digitalisasi paling sering digunakan untuk menggantikan tempat fisik sebelumnya. Saat ini, digitalisasi tempat penjualan dapat dilakukan dengan lebih mengandalkan marketplace atau media sosial untuk menjual produk.

Selain lokasi, promosi juga sangat diuntungkan dengan digitalisasi. Promosi mahal yang biasanya dilakukan terutama melalui media cetak kini dapat dilakukan melalui media online yang dapat dibuka dan digunakan oleh siapa saja. Tidak hanya itu, pemasaran online juga dapat diatur untuk menjangkau target konsumen yang diinginkan. Seperti yang umum terjadi saat ini, salah satu ciri beriklan di media sosial dan di marketplace adalah iklan teman UKM akan dilihat oleh target audience.

Sekompleks apapun, tujuan dari semua alat dan konsep di atas adalah untuk menjual produk. Jika Sobat UKM melakukan beberapa hal di atas dan tidak meningkatkan penjualan, maka perlu dievaluasi strateginya.

3. Tidak mampu melakukan ekspansi

Setelah teman-teman UKM memiliki keinginan untuk berkembang dan dapat menjual produknya dengan baik, mereka akan menghadapi kondisi untuk mengembangkan usahanya. Ekspansi bisnis ini dicapai dengan memproduksi dan menjual lebih banyak produk.

Dalam proses pemekaran ini, sahabat UKM akan menghadapi kondisi baru dan perlu diberdayakan dalam banyak hal, mulai dari sumber daya manusia, dana hingga legalitas. Dari sisi sumber daya manusia, Sahabat UKM akan menghadapi tantangan baru untuk mengelola lebih banyak karyawan dengan karakteristik yang berbeda.

Sahabat UKM juga akan menghadapi tantangan baru dalam mencari pendanaan. Modal ini dapat berupa modal investasi dan modal kerja. Dari segi hukum, mungkin teman-teman UKM akan menghadapi tuntutan hukum yang lebih rumit ketika mereka berekspansi. Semua hal ini harus mampu menangani penskalaan bisnis dengan baik.

Nah, tiga pertanyaan ini adalah rangkuman dari tantangan yang dihadapi oleh teman-teman UKM kita dalam rangka mencegah kegagalan bisnis. Meski terlihat sulit, sobat UKM jangan menyerah, karena setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.

Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat, silakan bagikan dengan teman-teman Anda. Teman-teman yang memulai bisnis, jangan lupa like, share dan komen artikel ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *